Bagaikan bulan yang elok,
tubuh laksana pualam, rumput terurai seperti mayang… itulah umpama yang
pantas untuk gadis cantik yang tinggal bersama ibunya yang sederhana di
sebuah desa terpencil itu. Semua orang akan mengakuinya saat memandang
gadis itu. Tak henti-hentinya ia merias dirinya. Cermin di dinding
rumahnya tak jemu meski gadis nan elok itu terus memandanginya. Namun
mereka terbius kecantikan itulah si gadis ini jadi angkuh dan malas. Ia
tak sadar bahwa keelokan yang dikaruniakan Tuhan itu adalah berkah yang
harus disyukuri dengan kerendahan hati.


